Assalamualaikum Saudara dan Saudari ku...

Salam sejahtera untuk kita semua....
Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah S.W.T.....Amin

Rabu, 13 Maret 2013

Tugas Retorika_Teks Pidato



NARKOBA PADA GENERASI MUDA
Oleh : M.Yusuf

Assalamualaikum…

Yang terhormat ibu dosen beserta teman-teman yang saya cintai…
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat dan karunianya, sehingga kita masih dapat berkumpul di tempat yang sederhana ini guna untuk mengikuti acara perkuliahan.

Ucapan terima kasih, kepada ibu dosen yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berdiri dihadapan teman-teman dan sedikit berbicara tentang remaja dan narkotika. Berkaitan tentang hal itu, lewat kesempatan ini, saya akan coba berbicara mengenai narkoba dan narkotika pada generasi muda sekedar yang saya ketahui.

Teman-teman yang saya cintai...
Berbicara tentang generasi muda/remaja dan narkoba, sepertinya sudah merupakan dua hal yang tak pernah terpisahkan, karena jika kita melihat belakangan ini banyak ditemui beragam kasus narkoba bahkan narkotika yang selalu melibatkan generasi muda/remaja korbannya. Selain dari pemakai, juga banyak ditemukan sebagai pengedar barang haram tersebut, sehingga semakin membuat pelik permasalahan yang berkaitan dengan narkoba/narkotika di lingkungan remaja saat ini.

Selain itu juga, melihat keterlibatan generasi muda/remaja dalam permasalahan ini, sepertinya sudah meluas sampai ke jaringan narkoba internasional. Hal ini akan mengakibatkan aparat kepolisian dan yang menangani permasalahan itu semakin sukar dan harus bekerja extra keras untuk mengungkap dan menanggulanginya.





Teman-teman yang saya cintai dan yang saya banggakan...
Dari permasalahan-permasalahan tersebut, tidak bisa langsung menyalahkan para generasi muda, akan tetapi harus mencari langkah yang bijak untuk mencari akar pokok permasalahnya. Jika memang masalah utamanya ada pada kurangnya peran orang tua dalam mendidik dan kurang perhatian terhadap anak-anaknya, maka pendekatan kepada orang tua tersebut, harus segera dilakukan. Begitu pun bila terdapat pada pokok permasalahan yang lainnya.

Jika ditemukan generasi muda yang menjadi tersangka penyalahgunaan narkoba maupun narkotika, para penegak hukum langsung memvonis memasukannya dalam penjara. Padahal, memenjarakan generasi muda bukanlah langkah penyelesaian yang baik dan bijak serta bukan untuk menyelesaikan masalah. Alangkah lebih baiknya menempatkan generasi muda tersebut ke dalam tempat rehabiliasi, agar remaja tidak merasa terasing dan bersalah yang berkepanjangan.

Teman-teman yang saya cintai dan saya banggakan...
Melihat kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini, kita sebagai generasi muda penerus bangsa, ikut prihatin terhadap saudara-saudara kita yang terlibat dalam masalah tersebut. Oleh karena itu teman-teman, Marilah kita saling menjaga diri dan menjauhi yang namanya narkoba. Langkah kita masih jauh, masa depan kita pun harus kita raih. Insya allah, pasti ada jalan yang terbaik.

Demikian pidato yang bisa saya sampaikan, apabila terdapat salah kata yang menyinggung hati dan perasaan teman-teman, saya mohon maaf dan semoga yang telah saya sampaikan bermanfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin
Wassalam,

Tugas Sejarah Sastra



PUISI LAMA
Oleh : M.Yusuf

A.    PENGERTIAN
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Pengarang dalam karya sastra lama yang termasuk dalam puisi lama biasanya bersifat anonim atau tidak diketahui.
Aturan- aturan yang dimaksud antara lain :
1.      Jumlah kata dalam 1 baris
2.      Jumlah baris dalam 1 bait
3.      Persajakan (rima)
4.      Banyak suku kata tiap baris
5.      Irama

Contoh Puisi LAMA:
Saat di meja makan pertama:
muncul seribu bayangan duka
banyak yang berlalu, pagi itu
orang masih mabuk dengan impiannya
Dari radio keluar berita-berita basi, naiknya harga-harga
Bukan itu yang disebut perubahan!
“Dimanakah sebernarnya keindahan bersemayam?”

Saat di meja makan kedua :
kesepian menekan tiba-tiba
ada jerit dari lorong tak bertepi
maka hidup hanya sebuah perjalanan lurus, tak berjiwa
bukan pengembaraan, bukan petualangan
meneruskan yang sudah ada
padahal hidup berjalan ke depan

B.     MACAM-MACAM PUISI LAMA
1.      MANTRA
Mantra merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
Contoh:
Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu

2.      GURINDAM
Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India). Semua baris merupakan isi dan menunjukkan hubungan sebab akibat.
Ciri-ciri Gurindam:
a.       Sajak akhir berirama a – a; b – b; c – c; dst.
b.      Berasal dari Tamil (India)
c.       Isinya merupakan nasihat yang cukup jelas yakni menjelaskan atau menampilkan suatui sebab akibat.

Contoh 1 :
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)

Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )

Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )

Contoh 2 :
Cahari olehmu akan sahabat
yang dapat dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru
yang mampu memberi ilmu

Cahari olehmu akan kawan
yang berbudi serta setiawan

Cahari olehmu akan abdi
yang terampil serta berbudi

3.      SYAIR
Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab. Semua baris merupakan isi.
Ciri – ciri Syair :
a. Setiap bait terdiri dari 4 baris
b. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
c. Bersajak a – a – a – a
d. Isi semua tidak ada sampiran
e. Berasal dari Arab

Contoh :
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)

Negeri bernama Pasir Luhur (a)
Tanahnya luas lagi subur (a)
Rakyat teratur hidupnya makmur (a)
Rukun raharja tiada terukur (a)

Raja bernama Darmalaksana (a)
Tampan rupawan elok parasnya (a)
Adil dan jujur penuh wibawa (a)
Gagah perkasa tiada tandingnya (a)

4.      PANTUN
Pantun adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.
Ciri – ciri Pantun :
1.      Setiap bait terdiri 4 baris
2.      Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
3.      Baris 3 dan 4 merupakan isi
4.      Bersajak a – b – a – b
5.      Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
6.      Berasal dari Melayu (Indonesia)

Contoh :
Ada  pepaya ada mentimun (a)
Ada mangga ada salak (b)
Daripada duduk melamun (a)
Mari kita membaca sajak (b)
MACAM-MACAM PANTUN
1.      Dilihat dari Bentuknya
a.      Pantun Biasa
Pantun biasa sering juga disebut pantun saja.
Contoh :
Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati
b.      Seloka (Pantun Berkait)
Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sebab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait.
Ciri-ciri Seloka:
a.       Baris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua.
b.      Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga
c.       Dan seterusnya

Contoh :
Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan
Kayu jati bertimbal jalan,
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan,
Ke mana untung diserahkan
c.       Talibun
Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya. Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi. Jika satiu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.
Jadi :
Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.
Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d

Contoh :
Kalau anak pergi ke pecan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu

d.      Pantun Kilat ( Karmina )
Ciri-cirinya :
a.       Setiap bait terdiri dari 2 baris
b.      Baris pertama merupakan sampiran
c.       Baris kedua merupakan isi
d.      Bersajak a – a
e.       Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata

Contoh :
Dahulu parang, sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)

2.      Dilihat Dari Isinya
a.      Pantun Anak-anak
Contoh :
Elok rupanya si kumbang jati
Dibawa itik pulang petang
Tidak terkata besar hati
Melihat ibu sudah datang
b.      Pantun Orang Muda
Contoh :
Tanam melati di rama-rama
Ubur-ubur sampingan dua
Sehidup semati kita bersama
Satu kubur kelak berdua

c.       Pantun Orang Tua
Contoh :
Asam kandis asam gelugur
Kedua asam riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
d.      Pantun Jenaka
Contoh :
Elok rupanya pohon belimbing
Tumbuh dekat pohon mangga
Elok rupanya berbini sumbing
Biar marah tertawa juga
e.       Pantun Teka-teki
Kalau puan, puan cemara
Ambil gelas di dalam peti
Kalau tuan bijak laksana
Binatang apa tanduk di kaki

Demikian beberapa pengertian dan macam-macam dari puisi lama, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua.
Amiinnn Yaa Rabbal Aalamaiinn...

Tugas Artikel


Penyingkatan Kata Dalam Jejaring Sosial ( SMS, Facebook, BBM  )
Dapat Mempengaruhi Tatanan Bahasa Indonesia
Oleh : M.Yusuf

Dalam berkomunikasi melalui jejaring sosial (SMS, Facebook, BBM) sepertinya sudah mulai meluas dan merebak pada sebagian orang. Contoh kecilnya saja, ketika melakukan diskusi ataupun menyelesaikan tugas kelompok, berkomunikasi dengan teman jarak jauh, meluangkan perasaan dan lain sebagainya. Hal ini dapat dilakukan melalui SMS, BBM maupun Facebook. Tentu saja untuk menghemat kata dan bahasa, akan melakukan menyingkatan dalam sebuah kata tersebut. Misal, kata “bagaimana” jadi “gimna”, kata “kenapa” disingkat jadi “napa” dan masih banyak lagi struktur kata yang disingkat.
Bentuk yang ringkas, unik dan mana suka dalam melakukan penyingkatan sebuah kata, cenderung disukai anak-anak muda sekarang dan secara marak juga digunakan dalam komunikasi melalui jejaring sosial seperti halnya dalam layanan pesan singkat atau yang biasa dikenal dengan SMS. Awalnya memang hanya serba menyingkat, namun kemudian huruf-huruf sudah mulai diganti dengan angka dan aneka simbol atau bahkan juga diganti dengan huruf lain yang jika dibaca kurang lebih menghasilkan bunyi yang mirip.
Kemunculan penyingkatan dan peringkasan kata dan bahasa ini tidak lain merupakan pengaruh dari bahasa dalam pergaulan (Gaul) sehari-hari dan juga peran teknologi melalui jejaring sosial seperti: Facebook, SMS, dan BBM. Keberadaan bahasa gaul ini dianggap sebagai alat komunikasi dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Bahasa gaul ini juga merupakan sarana eskpresi yang pas menurut selera kaula muda sekarang.
Persoalannya ialah apakah gaya penyingkatan bahasa ini bisa membawa pengaruh negatif terhadap penggunaan tatanan bahasa Indonesia secara umum? Hal ini tentu akan membawa pengaruh yang negatif, karena penggunaan penyingkatan kata ini sudah merambah dengan cukup luas dalam kehidupan remaja saat ini dan tentu saja akan berpengaruh terhadap penggunaan tatanan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini terbukti dalam pemakaian jejaring sosial seperti Facebook dan SMS, bahasa atau struktur kata yang dipakai banyak yang disingkat bahkan merubah huruf-huruf dengan simbol-simbol lain.
Merebaknya penggunaan bahasa yang ringkas dan singkat secara leluasa tanpa hambatan ini, mengakibatkan orang malas mempelajari bahasa yang baik dan benar, serta malas untuk bertutur kata mengikuti tatanan yang seharusnya. Oleh karena itu, remaja khususnya mahasiswa akan mengalami kesulitan dalam membahasakan gagasannya, baik dalam penggunaan tata kalimat maupun dalam pilhan kata yang seolah-olah begitu terbatas jumlah perbendaharaan kata yang dimiliki. Hal ini tentu saja akan menghambat pengetahuan kita dan merugikan pribadi remaja itu sendiri.
Akibat dari keseringan penyingkatan dan peringkasan bahasa, maka dalam penerapan ejaan dan tanda baca pun akan mengalami persoalan dan hambatan. hal ini dapat kita perhatikan dalam komunikasi melalui jejaring sosial seperti: SMS, BBM, dan Facebook. Komunikasi dalam jejaring sosial tersebut, tidak memperhatikan unsur penerapan ejaan dan tanda baca serta penggunaan huruf yang benar. Hal ini dapat dikatakan akan mengacaukan penggunaan tanda baca dan penggunaan huruf yang baik dan benar.
Dalam penggunaan huruf, huruf besar mapun huruf kecil digunakan tanpa mengindahkan kaidah bahasa. Begitu juga penerapan tanda baca dan pembuatan singkatan. Kaidah penyingkatan kata sama sekali tidak menjadi pertimbangan. Sebagai contoh yang saya kutip dari jejaring sosial Facebook, “hati-hati di jalan” disingkat jadi “ttdj”, kata “tempat” disingkat jadi “t4”, kata “dia” disingkat jadi “dy” dan masih banyak lagi.
Dari beberapa contoh tersebut, maka seolah ada pemahaman bahwa semakin aneh dan semakin kacau, justru akan semakin seru dan menarik. Kondisi yang seperti ini, akan menyebabkan anak-anak muda terutama mahasiswa mengalami kendala dalam penerapan ejaan dan tanda baca serta dalam penggunaan bahasa.
Dengan adanya persoalan ini, tidak hanya penggunaan tatanan bahasa Indonesia saja yang akan tersisihkan, tetapi juga akan mengganggu siapapun yang membaca dan mendengar kata-kata yang termaksud di dalamnya. Karena tidak semua mengerti akan maksud dari simbol-simbol penyingkatannya. Terlebih lagi dalam bentuk tulisan, sangat memusingkan dan memerlukan waktu yang lebih banyak untuk memahaminya.
Dari pembahasan diatas, maka dapat penulis sampaikan bahwa dalam penggunaan penyingkatan dan peringkasan bahasa atau kata dapat mengusik tatanan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita sebagai remaja penerus bangsa Indonesia masa depan ini melestarikan dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa sebaiknya kita bisa menggunakan bahasa indonesia dengan memperhatikan kaidah, peserta komunikasi, situasi, kondisi dan tujuan kita dalam berkomunikasi. Dengan demikian, kita akan dapat melestarikan bahasa indonesia kita tercinta ini dengan baik dan benar.
Bahasa yang baik belum tentu benar, tapi bahasa yang benar sudah tentu baik. Oleh karena itu, marilah kita lestarikan bahasa indonesia, jangan biarkan bahasa Indonesia kita ini terusik dan tersisihkan oleh bahasa-bahasa asing dan bahasa modern (Gaul). Marilah kita mulai menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama penggunaan bahasa dalam jalur jejaring sosial (Facebook, SMS, dan BBM).
 

Kamis, 07 Maret 2013

Antara Dimana - Di mana

Masih banyak orang menggunakan kata "dimana" yang kurang tepat, terutama saat kata "dimana" itu dimaksudkan untuk menunjukkan tempat. Masih banyak orang yang menuliskan kata "di" dan "mana" tanpa memisahnya.

Padahal menurut pedoman umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD), penulisan kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti "kepada" dan "daripada".

Dalam EYD, penulisan kata depan ini disebut Preposisi (bahasa Latin: prae, "sebelum" dan ponere, "menempatkan, tempat") yang diartikan sebagai kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat dan biasanya diikuti oleh nomina atau pronomina.

Preposisi bisa berbentuk kata, misalnya di dan untuk, atau gabungan kata, misalnya bersama atau sampai dengan. Lebih lanjut, baca ulasan.

Salam penulis muda.

Minggu, 17 Juni 2012

INDONESIA SURGA BAGI INDUSTRI ROKOK

TIADANYA komitmen pemerintah Indonesia terhadap kesehatan masyarakat makin tercermin dengan dihapuskannya batas tar dan nikotin dalam revisi peraturan pemerintah No. 18 tahun 1999 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan. Padahal, asap rokok secara ilmiah sudah terbukti menyebabkan setidaknya 25 jenis penyakit. Artinya, saat berbagai negara -- termasuk negara berkembang -- memperketat peraturan soal rokok untuk melindungi kesehatan rakyatnya, namun Indonesia justru menjadi surga bagi industri rokok.
Menurut Dr. Fernando Antezana, jika aksi-aksi yang keras tidak segera diambil, epidemi tembakau akan menyebabkan kematian dini sekira 250 juta anak dan remaja yang hidup saat ini. Sementara itu, Kepala Perwakilan WHO di Indonesia George Petersen mengungkapkan saat ini sekira empat juta orang mati tiap tahun karena rokok.
Walaupun bukti-bukti pengaruh dan kerugian akibat merokok itu begitu mengerikan, kelihatannya penanggulangan masalah merokok hingga saat ini masih belum didukung kemauan politik (political will) serius pemerintah. Buktinya, keselamatan dan kenyamanan bagi orang yang tidak merokok di tempat-tempat umum masih diabaikan. Lalu, di mana perlindungan atas hak kesehatan orang yang tidak merokok? Dan, lebih jauh di antara kita pun, walau telah mengetahui bahaya dari rokok, kita tetap merokok. Sungguh, bukankah ini tidak bijak terhadap dirinya sendiri?
Wahai perokok...! Bukankah seseorang akan senantiasa mencintai apa yang dicintai oleh kekasih-Nya (lebih-lebih, bila kita ingin dicintai-Nya), maka kita pun akan membenci yang dibenci-Nya. Allah SWT tidak menyukai asap rokok, lantaran ia adalah khabaits sesuatu yang buruk. Allah berfirman, "Menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang 'khabaits' (yang buruk)" (QS. Al-A'raf: 157).

Bahan kimia
Kalau kita sadar, satu batang rokok yang hanya seukuran pensil sepuluh sentimeter itu, ternyata ibarat sebuah pabrik berjalan yang menghasilkan bahan kimia berbahaya. Satu batang rokok yang dibakar mengeluarkan sekira 4 ribu bahan kimia. Menurut Dr. R.A. Nainggolan (1998), terdapat beberapa bahan kimia yang ada dalam rokok. Di antaranya, acrolein, merupakan zat cair yang tidak berwarna, seperti aldehyde. Zat ini sedikit banyaknya mengandung kadar alkohol. Artinya, acrolein ini adalah alkohol yang cairannya telah diambil. Cairan ini sangat mengganggu kesehatan.
Karbon monoxida, sejenis gas yang tidak memiliki bau. Unsur ini dihasilkan oleh pembakaran yang tidak sempurna dari unsur zat arang atau karbon. Zat ini sangat beracun. Jika zat ini terbawa dalam hemoglobin, akan mengganggu kondisi oksigen dalam darah.
Nikotin, adalah cairan berminyak yang tidak berwarna dan dapat membuat rasa perih yang sangat. Nikotin ini menghalangi kontraksi rasa lapar. Itu sebabnya seseorang bisa merasakan tidak lapar karena merokok.
Ammonia, merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hidrogen. Zat ini sangat tajam baunya dan sangat merangsang. Begitu kerasnya racun yang ada pada ammonia sehingga kalau disuntikkan (baca: masuk) sedikit pun kepada peredaraan darah akan mengakibatkan seseorang pingsan atau koma.
Formic acid, sejenis cairan tidak berwarna yang bergerak bebas dan dapat membuat lepuh. Cairan ini sangat tajam dan menusuk baunya. Zat ini dapat menyebabkan seseorang seperti merasa digigit semut.
Hydrogen cyanide, sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Zat ini merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar dan sangat efisien untuk menghalangi pernapasan. Cyanide adalah salah satu zat yang mengandung racun yang sangat berbahaya. Sedikit saja cyanide dimasukkan langsung ke dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian.
Nitrous oxide, sejenis gas yang tidak berwarna, dan bila terisap dapat menyebabkan hilangnya pertimbangan dan mengakibatkan rasa sakit. Nitrous oxide ini adalah jenis zat yang pada mulanya dapat digunakan sebagai pembius waktu melakukan operasi oleh para dokter.
Formaldehyde, sejenis gas tidak berwarna dengan bau yang tajam. Gas ini tergolong sebagai pengawet dan pembasmi hama. Gas ini juga sangat beracun keras terhadap semua organisme-organisme hidup.
Phenol, merupakan campuran dari kristal yang dihasilkan dari distilasi beberapa zat organik seperti kayu dan arang, serta diperoleh dari tar arang. Zat ini beracun dan membahayakan, karena phenol ini terikat ke protein dan menghalangi aktivitas enzim.
Acetol, adalah hasil pemanasan aldehyde (sejenis zat yang tidak berwarna yang bebas bergerak) dan mudah menguap dengan alkohol. Hydrogen sulfide, sejenis gas yang beracun yang gampang terbakar dengan bau yang keras. Zat ini menghalangi oxidasi enxym (zat besi yang berisi pigmen).
Pyridine, sejenis cairan tidak berwarna dengan bau yang tajam. Zat ini dapat digunakan mengubah sifat alkohol sebagai pelarut dan pembunuh hama. Methyl chloride, adalah campuran dari zat-zat bervalensi satu antara hidrogen dan karbon merupakan unsurnya yang terutama. Zat ini adalah merupakan compound organis yang dapat beracun.
Methanol, sejenis cairan ringan yang gampang menguap dan mudah terbakar. Meminum atau mengisap methanol dapat mengakibatkan kebutaan dan bahkan kematian. Dan tar, sejenis cairan kental berwarna cokelat tua atau hitam. Tar terdapat dalam rokok yang terdiri dari ratusan bahan kimia yang menyebabkan kanker pada hewan. Bilamana zat tersebut diisap waktu merokok akan mengakibatkan kanker paru-paru.

Bahayakan tubuh
Melihat dari kandungan bahan-bahan kimia yang terdapat dalam rokok tersebut, kita tidak akan menyangsikan lagi kalau rokok itu merupakan sumber bencana dan perusak tubuh bagi yang mengisapnya. Salah satu proses yang memang belum berdampak pada penampilan fisik perokok adalah gangguan pada sistem sirkulasi darah, yang akhirnya memicu penyakit jantung. Kami menggolongkan mereka sebagai 'perokok sehat,' kata Dr. Johannes Czenin (baca: SHAR'niin), Rektor kepala pada Departemen Molekular dan Farmakologi UCLA. Lebih lanjut dikemukakan, walau belum ada indikasi jantung koroner, toh ada abnormalitas yang kami sebut vosomotion, atau perubahan pada aliran darah.
Sementara itu, berdasarkan laporan Badan Lingkungan Hidup Amerika (EPA - Environmental Protection Agency) mencatat tidak kurang dari 300 ribu anak-anak berusia 1 hingga 1,5 tahun menderita bronchitis dan pneumonia, karena turut mengisap asap rokok yang diembuskan orang di sekitarnya terutama ayah-ibunya.
Selain anak-anak, kecenderungan peningkatan jumlah korban asap rokok juga terlihat pada kaum wanita. Nasib kaum ibu bersuamikan perokok agaknya tak berbeda jauh dengan anak-anak yang memiliki keluarga perokok. Penelitian yang dilakukan EPA menghasilkan kesimpulan bahwa dari 30 wanita, 24 di antaranya berisiko tinggi terserang kanker paru-paru bila suaminya perokok.
Di bagian lain, menurut para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas New York, wanita yang merokok lebih dari 10 batang per hari memiliki peluang memasuki monopause dini 40 persen lebih besar ketimbang para wanita yang tidak merokok. Dalam studi itu, para peneliti mengamati 4.694 wanita selama lebih dari lima tahun. Ternyata, wanita perokok rata-rata memasuki masa monopause lebih cepat 9 bulan ketimbang wanita yang tidak merokok.
Setelah kita mengetahui kandungan bahan-bahan kimia berbahaya dalam rokok dan akibatnya bagi kesehatan manusia, maka alangkah bodohnya manusia yang masih merokok dan tidak ada niatan untuk berhenti merokok. Buat apa kita dilengkapi akal dan pikiran kalau diri kita tidak dapat memilah-milah mana yang baik dan tidak baik dari sesuatu barang yang akan kita konsumsi?

Berhenti Merokok
Kurt Salzer (1950:59), dalam Thrirteen Ways to Break the Smoking Habit, mengemukakan, ada 13 metode berhenti merokok :
1)      Menyadari apa sebabnya Anda merokok.
2)      Langsung berhenti merokok.
3)      Jangan merokok waktu melakukan sesuatu atau sewaktu mengemudikan kendaraan.
4)      Katakan kepada diri, "Saya tidak akan merokok hari ini".
5)      Tentukan suatu hari untuk berhenti merokok.
6)      Katakan, "ya" bagi kesehatan Anda, dan katakan "tidak" untuk penyakit.
7)      Merokok mengurangi kecantikan Anda. Oleh karena itu, katakan "ya" untuk kecantikan muka Anda dan "tidak" atas kerusakan kecantikan karena rokok.
8)     Adalah watak orang-orang muda, bahwa walaupun ada sifat menentang ibu-bapak atau guru, namun mencoba meniru mereka. Bapak atau guru yang melarang anak-anak merokok, tetapi mereka sendiri merokok, akan diikuti anak-anak jadi perokok. Oleh karena itu, Anda perlu menyadari pengaruh Anda sebagai orang tua atau guru, kalau Anda masih tetap merokok.
9)    Pernahkah Anda membakar uang lembaran seribu rupiah? Anda, dengan merokok telah membuatnya.
10)  Seseorang perokok telah terbiasa dengan bau rokok yang sangat tajam. Organismenya telah terbiasa dengan kadar nikotin tertentu. Gantinya memarahi seorang anak yang merokok, dipaksa merokok sampai dia merasa sakit. Akibatnya, kapan saja anak itu mencium bau rokok, dia merasa sakit.
11)Tersedak atau ketegukan akan berhenti dengan memperhatikan diafragma Anda, bagaimana diafragma itu mengembang dan mengempis. Amati diri Anda, kalau Anda sedang ingin merokok. Keinginan itu datang dari luar. Lalu tutup mata Anda dan pikirkan mengalahkan pengaruh luar tersebut.
12) Dalam pertentangan antara kuasa kemauan dan kuasa imajinasi, maka kuasa imajinasi itu akan menang. Bayangkanlah Anda tidak akan merokok lagi, maka Anda akan berhasil.
13) Agar metode imajinasi itu berhasil, jangan bimbang. Dengan santai katakanlah kepada diri, "Saya tahu bahwa saya tidak akan merokok lagi". Oleh karena itu, Anda tidak akan merokok lagi.

Selamat berhenti merokok. Masihkah Anda ragu terhadap bahaya dari rokok? Bila ya, berarti Anda benar-benar telah tertipu dan siap-siap dibunuh oleh rokok! Atau jangan-jangan Anda telah terlena sebab Indonesia benar-benar sudah menjadi surga bagi industri rokok.


Kamis, 10 Mei 2012

TAHAPAN MENYIMAK MENURUT “HUNT”


MAKALAH

TAHAPAN MENYIMAK
MENURUT
“HUNT”



Oleh :
M.YUSUF
Kelas : 1. A
Bahasa dan Sastra Indonesia


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN
( S T K I P )
YAPIS DOMPU


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum...war...wab...
Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah S.W.T yang telah memberikan kekuatan kepada saya, sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah untuk mata kuliah Ket.Menyimak tentang Tahapan-tahapan menyimak menurut HUNT dengan baik dan tepat pada waktunya.
Menyimak adalah mendengarkan serta memerhatikan baik-baik apa yang dibaca atau diucapkan oleh si pembicara serta menangkap dan memahami isi dan makna komunikasi yang tersirat di dalamnya. Dalam hal mendengarkan atau memerhatikan orang membaca atau orang yang bercakap, penyimak menerima keterangan melalui rangkaian bunyi bahasa dengan susunan nada dan tekanan suara orang yang membaca atau bercakap. Jika pembicara dan pembaca dapat melihat, maka penyimak akan dapat melihat gerak muka dan gerak tangan pembicara seperti, bibir, mimik, dan sebagainya. Jika penyimak menyimak lewat media bantu seperti tape recorder, maka si penyimak hanya dapat menyimak bunyi bahasa yang disampaikan oleh si pembicara.
Tidak lupa pula saya khaturkan ucapan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada bapak Dosen serta teman-teman yang telah memberikan motivasi kepada saya, sehingga saya bisa dan mampu mengetahui dari hal-hal yang belum pernah saya ketahui menjadi sesuatu yang sangat bermakna dan berarti bagi saya pribadi khususnya.
Saya sadar, bahwa dalam penyusunan makalah ini, terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kritik maupun saran dari teman-teman yang bersifat membangun, sangat saya harapkan untuk perbaikan dan penambahan dilain waktu dan dilain kesempatan.
Demikian uraian singkat dari saya, semoga dengan adanya makalah ini, dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi para pembaca makalah ini nantinya.



Wassalam,
Dompu, 10 Desember 2011




Penyusun




BAB I
PENDAHULUAN

I.         Latar belakang

Pengajaran bahasa Indonesia bertujuan memberikan pengetahuan kebahasaan agar murid mampu menguasai bahasa Indonesia sebaik-baiknya. Untuk mencapai tujuan ini maka, pada dasarnya ada empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh murid secara baik dan benar sebagaimana tercantum dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yaitu keterampilan menyimak (listening skill) keterampilan berbicara (speaking skill), keterampilan membaca (reading skill), dan keterampilan menulis (writing skill).
Dari keempat keterampilan berbahasa (language skill) yang dikemukakan di atas, hanya keterampilan menyimak yang akan menjadi perhatian dalam makalah ini karena pada umumnya pengetahuan diperoleh melalui keterampilan menyimak. Setiap orang mendengar berita-berita melalui media massa maupun informasi melalui tatap muka, saat itu telah berlangsung pula kegiatan menyimak. Oleh karena itu, pengajaran menyimak mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran di sekolah dasar sebab kemampuan menyimak yang baik adalah kondisi awal untuk menghasilkan prestasi belajar yang baik.

II.      Tujuan

Adapun beberapa tujuan yang akan dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.    Meningkatkan pemahaman dan tanggapan seorang tentang Menyimak.
2.    Meningkatkan pemahaman dan tanggapan seorang tentang menyimak dengan cara bertahap.

III.   Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan Menyimak ?
2.    Bagaimanakah cara melakukan Penyimakan secara bertahap ?




BAB II
PEMBAHASAN

A.          Pengertian Menyimak
Orang tua sering memberikan nasihat kepada putra-putrinya yang berbunyi, kalau orangtua sedang bicara, jangan hanya sekedar mendengar saja, masuk dari telinga kiri keluar dari telinga kanan, tetapi simaklah, dengarkanlah baik-baik, masukkan ke dalam hati.
Apabila kita memerhatikan cuplikan di atas, maka menyimak sangat dekat maknanya dengan mendengar dan mendengarkan. Namun, kalau kita pelajari lebih jauh, ketiga kata itu terdapat perbedaan pengertian. Mendengar didefinisikan sebagai suatu proses penerimaan bunyi yang datang dari luar tanpa banyak memerhatikan makna dan pesan bunyi itu. Sedangkan menyimak adalah proses mendengar dengan pemahaman dan perhatian terhadap makna dan pesan bunyi itu. Jadi, di dalam proses menyimak sudah termasuk mendengar, sebaliknya mendengar belum tentu menyimak. Di dalam bahasa Inggris terdapat istilah “listening comprehension” untuk menyimak dan “to hear” untuk mendengar.
Menyimak merupakan proses pendengaran, mengenal dan menginterprestasikan lambang-lambang lisan, sedangkan mendengar adalah suatu proses penerimaan bunyi yang datang dari luar tanpa banyak memerhatikan makna itu. Dengan kata lain menurut Tarigan (1993: 19): “Dalam proses menyimak juga terdapat proses mendengar, tetapi tidak selalu terdapat proses menyimak di dalam suatu proses mendengar.”
Kalau keterampilan menyimak dikaitkan dengan keterampilan berbahasa yang lain, seperti keterampilan membaca, maka kedua keterampilan berbahasa ini berhubungan erat, karena keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi. Perbedaannya terletak dalam hal jenis komunikasi. Menyimak berhubungan dengan komunikasi lisan, sedangkan membaca berhubungan dengan komunikasi tulis. Dalam hal tujuan, keduanya mengandung persamaan, yaitu memperoleh informasi, menangkap isi, memahami makna komunikasi.
Dari uraian di atas, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa menyimak adalah mendengarkan serta memerhatikan baik-baik apa yang dibaca atau diucapkan oleh si pembicara serta menangkap dan memahami isi dan makna komunikasi yang tersirat di dalamnya. Dalam hal mendengarkan atau memerhatikan orang membaca atau orang yang bercakap, penyimak menerima keterangan melalui rangkaian bunyi bahasa dengan susunan nada dan tekanan suara orang yang membaca atau bercakap. Jika pembicara dan pembaca dapat melihat, maka penyimak akan dapat melihat gerak muka dan gerak tangan pembicara seperti, bibir, mimik, dan sebagainya. Jika penyimak menyimak lewat media bantu seperti tape recorder, maka si penyimak hanya dapat menyimak bunyi bahasa yang disampaikan oleh si pembicara.


B.           Tahapan-tahapan dalam Menyimak
Selain tahapan-tahapan menyimak menurut srickland dan Anderson, terdapat juga pakar lain yang mengemukakan pendapatnya tentang tahapan-tahapan dalam menyimak, yaitu Hunt. Menurut Hunt, ada 7 tahapan dalam menyimak yaitu :
1.            Isolasi
2.            Identifikasi
3.            Integrasi
4.            Inspeksi
5.            Interpretasi
6.            Interpolasi
7.            Intropeksi
Adapun penjabarannya adalah sebagai berikut :
1.            Isolasi (pemisahan/memisahkan)
Isolasi(memisahkan) yang dimaksud dalam tahapan ini ialah sang penyimak harus bisa mencatat aspek-aspek kata lisan yang disimak dan mampu memisahkan atau mengisolasikan bunyi-bunyi, ide-ide, fakta-fakta, organisasi-organisasi khusus yang dilontarkan oleh pembicara itu sendiri.
Pada tahapan ini juga sang penyimak harus bisa menyikapi hal-hal yang dianggap menggaggu  agar mencapai proses penyimakan yang baik dan benar. Dalam tahap inilah, sang penyimak mampu mengisolasikan hal-hal atau sesuatu yang disimak. Hal itu dilakukan agar bisa mengambil dan mengutip hasil yang baik dan benar didalam proses menyimak..
Contoh :
Ketika seseorang menyimak sebuah berita disebuah station televisi, sang penyimak mencatat hal-hal yang dianggap penting dan membedakan setiap bunyi atau suara yang dilontarkan oleh pembicara itu sendiri.

2.            Identifikasi (menentukan atau menetapkan)
Dalam tahapan menyimak ini. Seseorang mampu mendata, mencatat apa yang sedang dibicarakan tentang hal-hal yang dianggap penting dan bermanfaat bagi kita. Dalam hal ini apabila stimulus tertentu sudah dapat dikenal atau kita ketahui maka suatu makna atau identitas pun bisa kita tetapkan atau diberikan kepada setiap butir-butir atau hal-hal yang berdikari atau berdiri sendiri itu.

3.            Integrasi (Penyatuan/menyatukan)
Pada tahapan ini, kita harus bisa menyesuaikan atau menyatupadukan sesuatu yang kita dapatkan sekarang dengan informasi lain yang telah miliki yang telah tersimpan dan terekam dalam memori atau otak kita sebelumnya. Hal ini dilakukan agar kita bisa mendapatkan hasil penyimakan yang lebih baik dan akurat.
Hal ini bermaksud, agar mampu menyesuaikan atau membandingkan hasil penyimakan dengan informasi yang telah kita ketahui sebelumnya.
Contoh : ketika kita menyimak sebuah pidato/pengumuman, kita biasanya akan melakukan penyimakan dengan baik. Akan tetapi pengumuman tersebut masih membutuhkan penjelasan dan gambaran yang lebih jelas lagi. Nah disitu kita akan mampu menyatukan/membandingkan antara informasi yang didapat pada yang pertama dengan informasi yang didapat kemudian(yang dihadapi).
              
4.            Inspeksi
Pada tahap ini, ketika kita mendapat informasi-informasi baru yang kita terima atau yang kita dapatkan, kita bisa membandingkan atau memeriksa kembali dengan informasi yang telah kita miliki sebelumnya yang berkaitan dengan hal tersebut. Hal ini kita lakukan agar supaya kita bisa mengetahui mana yang bisa kita gunakan dan mana yang tidak layak untuk kita lakukan.
Dalam tahapan ini sebenarnya memiliki sedikit kesamaan dengan tahapan integrasi, hanya saja dalam tahapan ini kita dituntun untuk mampu memeriksa dan menilai kembali  informasi yang kita dapatkan dengan pengetahuan kita sendiri.
Contoh : ketika orang tua/orang lain memberikan pengertian(motivasi) kepada kita, kita kadang tidak sepenuhnya langsung  melakukannya, kita harus bisa membandingkan dan memikirkan(menilai) apakah mampu kita lakukan atau pantas(baik) untuk kita terapkan.

5.            Interpretasi
Pada tahap ini, kita secara aktif mengevaluasi sesuatu yang kita dengar dan menelusuri dari mana datangnya semua informasi itu. Dalam kegiatan penyimakan ini juga kita bisa memberikan kesan atau pendapat kita agar dalam proses evaluasi bisa terlaksana dengan baik, tidak dengan secara setengah-setengah.
Dalam tahapan ini bermaksud, bahwa ketika kita dalam proses kegiatan penyimakan, kita boleh meluangkan segala  pendapat atau opini kita, namun tidak menegahi atau membantah ketika orang sedang berbicara. Hal ini dilakukan agar supaya didalam proses perbandingan atau pengevaluasian bisa mendaptkan hasil yang maksimal dan baik. Dalam arti tidak secara bertahap atau setengah-setengah.

6.            Interpolasi
Pada tahapan ini, selama proses penyimakan kita tidak ada pesan yang membawa makna dalam atau berguna dan memberi informasi yang bermanfat bagi kita, maka tanggung jawab kita sendiri untuk menyediakan serta memberikan data-data dan ide-ide penunjang dari latar belakang pengetahuan dan pengalaman kita sendiri untuk mengisi serta memenuhi butir-butir pesan yang kita dengar.
Dalam tahapan ini bermaksud, bahwa ketika informasi yang didapatkan atau yang disimak tidak berguna atau tidak lengkap menurut kita, maka untuk menyempurnakannya, kita harus menyediakan serta memberikan informasi atau ide-ide penunjang yang berkaitan dengan hal-hal yang kita simak, agar informasi yang kita anggap tidak lengkap tadi bisa terlengkapi dan terisi dengan baik dan secara sempurna.
Contoh : kita melakukan penyimakan melalui Televisi atau radio, akan tetapi informasi yang disampaikan tidak mampu kita pahami dan dicerna, akan tetapi informasi tersebut mampu kita nilai atau telusuri dengan pemahaman atau pengalaman yang telah ada dalam otak kita sebelunya. Jadi, ketika ada orang lain yang menanyaka tentang informasi tersebut, kita tidak kebingungan lagi menyampaikannya.

7.                        Intropeksi
Setelah kita melakukan proses penyimakan, kita bisa menilai serta menguji informasi-informasi yang baru kita dapatkan, dengan pengalaman atau pengetahuan yang kita miliki, agar kita bisa menerapkan dan melakukannya pada keadaaan maupun situasi kita sendiri. Baik di lingkungan sosial maupun di lingkungan keluarga terdekat kita.

Jika kita amati uraian di atas, sebenarnya sama-sama memiliki keterkaitan dan ketergantungan. Supaya kita mendapatan hasil yang maksimal dan baik serta berguna untuk kita, maka setidaknya kita harus mampu melewati beberapa tahapan-tahapan yang dikemukakan oleh “HUNT” tersebut. Walaupun hal itu kita melakukannya tidak secara menyeluruh dan sekaligus.
Dengan adanya ke-7 tahapan tersebut di harapkan juga agar kita bisa melakukan proses penyimakan dengan baik dan mencapai hasil yang maksimal. Dimana, sebagian besar orang mengatakan bahwa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih baik dan banyak ialah dengan melalui proses penyimakan. Apabila kita mampu melaksanakan dan menerapkan ke-7 tahapan menyimak diatas, pasti kita akan mendapatkan informasi-informasi dengan baik, tepat, serta akurat.





BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Setelah menelaah ketujuh tahap tersebut maka dapat kita simpulkan bahwa didalam melakukan suatu proses menyimak yang baik itu tidak hanya merupakan mendengar secara pasif tetapi suatu kegiatan atau aktivitas yang menuntut partisipasi, keikutsertaan, keterlibatan sang penyimak terhadap hal-hal yang disimak. Agar kita bisa mendapatkan hasil yang lebih baik dan maksimal.
Menyimak  juga merupakan sebuah proses mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menafsirkan, menilai, dan mereaksi makna.


Daftar Pustaka
 
Ahmad, Mukhsin. 1990. Strategi Belajar-Mengajar Ketrampilan Berbahasa dan Apresiasi Sastra.Malang: Y A 3
Henry Guntur. 1980.Menyimak sebagai suatu Keterampilan Berbahasa.Bandung: Angkasa