Assalamualaikum Saudara dan Saudari ku...

Salam sejahtera untuk kita semua....
Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah S.W.T.....Amin

Rabu, 13 Maret 2013

Tugas Dasar Keterampilan Berbicara


METODE PEMBELAJARAN
BERBICARA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keterampilan Berbicara



Disusun Oleh :
Kelompok 1

1.   Asni Kurnania                      ( 004 )
2.   Feby Haryani                       ( 012 )
3.   Juhana                                 ( 024 )
4.   M. Yusuf                             ( 031 )
5.   Wasiatun Rahmawati       ( 048 )
6.   Nurwahidah                        ( 049 )


Dosen Pengampu:
Nurfuziah, S.Pd



SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) YAPIS DOMPU
Tahun Akademik 2012/2013



KATA PENGANTAR


Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kesempatan kepada kita semua. Sehingga kami dari kelompok 1 dapat menyelesaikan tugas yang berjudul Metode Pembelajaran Berbicara ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Tugas ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keterampilan Berbicara.
Ucapan terima kasih kepada ibu Nurfuziah, S.Pd selaku Dosen pengampu kami, yang telah membimbing dan banyak memberikan masukan serta motivasi terhadap kami, sehingga kami dapat mengetahui banyak hal dalam pembelajaran berbicara.
Kami menyadari, bahwa dalam penyusunan tugas ini, masih terdapat kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kami atas nama penyusun makalah ini sangat mengharapkan kritik maupun masukan yang bersifat membangun dari teman-teman selaku pembaca, untuk perbaikan kami kedepannya.
Demikian penyusunan tugas ini, semoga dapat bermanfaat dan menunjang pengetahuan kita. Amin

Dompu, 07 Januari 2013
Penyusun,

 
Kelompok 1


  
DAFTAR ISI

LEMBARAN SAMPUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
  1. Pengertian Berbicara
  2. Kegiatan Berbicara
  3. Metode Pembelajaran
  4. Metode Pembelajaran Berbicara
1)      Metode Ulang Ucap
2)      Metode Lihat Ucap
3)      Metode Memberikan Deskripsi
4)      Metode Menjawab Pertanyaan
5)      Metode Bertanya
6)      Metode Pertanyaan Menggali
7)      Metode Bercerita
8)      Metode Melanjutkan Cerita
9)      Metode Menceritakan Kembali
10)  Metode Percakapan
11)  Metode Parafrase
12)  Metode Memberi Petunjuk
13)  Metode Pelaporan
14)  Metode Wawancara
15)  Metode Diskusi
16)  Metode Bertelepon
17)  Metode Dramatisasi

BAB III PENUTUP
  1. Kesimpulan
  2. Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Keterampilan berbahasa dibagi menjadi 4 macam, yaitu membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Dari keempat keterampilan berbahasa tersebut, yang paling menonjol pemakaiannya di masyarakat dan siswa adalah berbicara, terbukti anggota masyarakat terutama para siswa lebih suka dan lebih bisa berbicara daripada ketiga keterampilan berbahasa yang lain.
Walaupun demikian, mereka sebenarnya belum terampil berbicara dalam arti yang sebenarnya. Oleh karena itu, untuk menunjang kelancaran berbicara tersebut, perlu digunakan metode-metode pembelajaran yang sesuai dengan keadaan dan kondisi siswa itu sendiri.
Oleh karena itu, seorang guru dalam mengajarkan keterampilan berbicara diharapkan dapat memberikan dorongan kepada siswa melalui perencanaan dan pelaksananaan serta penggunaan metode pembelajaran bahasa dengan baik, agar siswa tidak merasa peka, bosan serta jenuh dalam menerima pelajaran.
Metode-metode pembelajaran haruslah dapat memotivasi siswa serta memancing siswa untuk berbicara. Untuk mengetahui beberapa metode tersebut, maka akan kita bahas dalam presentasi kita kali ini.

B.     RUMUSAN MASALAH
Dari uraian berbicara tersebut, maka dapat kami angkat beberapa permasalahan dalam pembelajaran berbicara ialah :
1.      Apa yang dimaksud dengan berbicara ?
2.      Apa itu kegiatan berbicara ?
3.      Apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran ?
4.      Apa saja metode yang dipergunakan dalam pembelajaran berbicara ?

C.    TUJUAN PENULISAN
1.      Memotivasi peserta didik untuk tanggap, berani, dan percaya diri dalam berbicara.
2.      Melatih peserta didik untuk berbicara dengan baik, sesuai dengan kaidah dan aturan kebahasaan.
3.      Memberikan gambaran terhadap seorang guru tentang metode-metode yang akan digunakan dalam pembelajaran berbicara.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN BERBICARA
Berbicara merupakan sarana utama untuk membina saling pengertian, komunikasi timbal balik, dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Kegiatan berbicara didalam kelas bahasa mempunyai aspek komunikasi dua arah, yakni antara pembicara dengan pendengarnya secara timbal balik.
Dengan demikian latihan berbicara harus terlebih dahulu didasari oleh:
(1)   Kemampuan mendengarkan
(2)   Kemampuan mengucapkan
(3)   Penguasaan (relatif) kosa kata.
Secara umum tujuan latihan berbicara untuk tingkat pemula dan menengah ialah agar siswa dapat berkomunikasi lisan secara sederhana dalam Bahasa Inggris. Oleh karena itu, dalam pembelajarannya harus mampu menggugah dan memotivasi siswa untuk berbicara dan mempunyai keberanian untuk mempraktikkannya.
B.     KEGIATAN BERBICARA
Kegiatan berbicara adalah kegiatan yang tidak dapat dilepaskan dalam keseharian kehidupan kita sebagai manusia. Tujuan dari belajar berbicara adalah menyampaikan buah pikiran, gagasan dan ide dengan bahasa yang dapat dipahami orang lain dengan tingkat kebahasaan sesuai dengan karakter umur dan kelompok kelas siswa bersangkutan. Dengan berbicara maka segala unek-unek, gagasan, ide dan pendapat akan tersampaikan.
Apabila isi dari pembicaraan seseorang mendapat tanggapan yang baik dari si penyimak maka akan menciptakan efek kepercayaan diri yang lebih dari si pembicara untuk selanjutnya berkreasi menyampaikan gagasan lainnya. Melalui penyampaian gagasan, akan berdampak pada daya imajinasi siswa dalam mengolah pikirannya sehingga akan meningkatkan daya pikir dan logika.
Dengan melatih siswa dalam berbicara,maka siswa akan mudah berkreasi tanpa batas dan menghasilkan manusia-manusia unggul serta berhasil kelak dikemudian hari. Oleh karena itu, perlu diberikan pembelajaran khusus dalam pengembangan keterampilan berbicara. Selain itu, berbicara juga merupakan sebuah tempat untuk kita berkomunikasi, maka perlu juga untuk kita mempelajari metode-metode dalam pembelajaran berbicara.
 C.    METODE PEMBELAJARAN
Metode adalah cara yang digunakan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Metode pembelajaran adalah cara menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa.  Apabila dikaitkan dengan pengalaman belajar, metode berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan pengalaman belajar yang telah dirancang (Tarigan, 1980:260).
D.    METODE PEMBELAJARAN BERBICARA
Metode pembelajaran adalah cara menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa. Oleh karena itu, tanpa adanya metode yang tepat maka bahan pembelajaran dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa akan menjadi tidak berarti.
(Tarigan dalam idra, 2002:56) mengemukakan beberapa metode dalam pembelajaran berbicara ialah sebagai berikut :
1.      Metode Ulang Ucap
Model ucapan adalah suara guru atau rekaman suara guru. Model ucapan yang diperdengarkan kepada siswa harus dipersiapkan dengan teliti. Model ucapan ini diperdengarkan di depan kelas, siswa mendengarkan dengan teliti lalu mengucapkannya kembali sesuai dengan model atau yang diucapkan guru.
Metode ulang ucap ini, biasanya sangat cocok untuk siswa SD karena pada tahap-tahap awal siswa belajar berbicara sangat memerlukan contoh pelafalan secara benar sebagai pajanan (Expose).
Contoh
Contoh Fonem
Contoh Kata
Contoh Kalimat
Guru: /a/,/i/,/m/,/n/
Siswa: /a/,/i/,/m/,/n/
Guru : provokator
Siswa: provokator
Guru : Selamat pagi, Kak
Siswa: Selamat pagi, Kak

2.      Metode Lihat Ucap
Metode lihat ucap merupakan perangsang bagi siswa untuk mengekpresikan hasil pengamatannya. Hal-hal yang diamati adalah  dapat berupa benda, gambar benda, dan duplikat benda.
Metode ini dapat dilakukan dengan cara memperlihatkan sesuatu yang konkret atau gambar benda sebagai media, kemudian siswa menyebutkan warna benda tersebut dan menceritakan isi gambar sesuai dengan yang diperlihatkan oleh guru
Contoh
-         Guru : memperlihatkan bola tenis
-         Siswa : bola tenis
-         Guru menunjukkan gambar berseri.
-         Siswa membaca gambar dengan lafal gambar ber-[seri].
-         Guru menunjukkan gambar orang senyum berseri-seri.
-         Siswa membaca gambar dengan lafal gambar [seri].
3.      Metode Memberikan Deskripsi
Teknik mendekripsi/ menggambarkan/ melukiskan/memerikan sesuatu secara verbal yang digunakan untuk melatih siswa berani dalam berbicara atau mengekspresikan hasil pengamatannya terhadap sesuatu.
Dengan metode ini siswa diberikan tugas untuk untuk mendeskripsikan suatu benda yang diperlihatkan oleh guru secara lisan.
Contoh
-     Guru membawa dan memperlihatkan daun pepaya kepada siswa dan meminta siswa sejenak mengamatinya. Setelah itu, guru meminta siswa memberikan bentuknya, warna daunnya, manfaat dan sebagainya, sesuai dengan hasil pengamatannya.
4.      Metode Menjawab Pertanyaan
Teknik ini digunakan untuk melatih siswa berbicara. Melalui pertanyaan guru, siswa harus terpancing untuk menjawabnya dengan baik, benar, tepat. Pertanyaan harus disiapkan dengan cermat, tepat sasaran, dan merangsang. Misalnya menanyakan identitas diri.
Dengan menggunakan metode ini, maka siswa yang awalnya pemalu lama-lama akan menjadi terlatih keberanian berbicaranya karena ia selalu diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan secara lisan.
Pertanyaan dikondisikan sedemikian rupa oleh guru untuk merangsang kreatifitas berfikir dan menyampaikan tanggapan terhadap suatu masalah yang diajukan.
Contoh
-         Guru          :  Siapa namamu?
-         Siswa         :  Nama saya Yusuf.
-         Guru          :  Berapa usiamu?
-         Siswa         :  Usia saya 12 tahun.
-         Guru          :  di mana tempat tinggalmu?
-         Siswa         :  di Mbawi-Dompu
-         Guru          :  sempurnakan jawabanmu!
-         Siswa         : saya tinggal di jalan lintas Mbawi dusun Mpungga desa Mbawi   Kec.Dompu Kab.Dompu-NTB
5.      Metode Bertanya
Guru yang baik adalah guru yang selalu memberikan kesempatan kepada siswanya untuk bertanya. Karena dengan melalui pertanyaan, siswa akan dapat mengungkapkan keingintahuannya tentang sesuatu hal.
Melalui pertanyaan pula guru akan tahu kemampuan siswa dalam berbicara dan siswa juga dapat menemukan apa yang diinginkannya.
Contoh
-         Guru : (akan mengajarkan materi paragraf. Sebelum pembelajaran dimulai, siswa mengajukan pertanyaan).
-         Siswa : Apakah yang dimaksud paragraf itu, Pak?
-         Guru : (meminta siswa yang tahu untuk menjelaskan)
-         Siswa : Apakah paragraf itu sama dengan alinea, Pak?
-         Guru : (menjelaskan pengertian dan penggunaan paragraf)
6.      Metode Pertanyaan Menggali
Metode ini dapat digunakan untuk merangsang siswa banyak berpikir dan memancing siswa untuk berbicara. Pertanyaan menggali ini merupakan pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang berupa penjelasan.
Pertanyaan menggali dapat digunakan untuk menilai kedalaman dan keluasan pemahaman siswa terhadap suatu masalah. Dengan metode ini pula, maka siswa akan dapat berbicara untuk menyampaikan gagasan, ide-ide dan pendapat mereka.
Contoh
-         Guru  : Apa yang Anda ketahui tentang hujan?
-         Siswa : Hujan itu adalah air yang turun dari langit.
-         Guru   : Bagaimana proses terjadinya?
-    Siswa : Hujan berasal dari air yang menguap karena adanya panas. Uap tersebut membentuk awan, setelah terkumpul jadilah hujan.
7.      Metode Bercerita
Kegiatan bercerita untuk menuntun siswa menjadi pembicara yang baik. Lancar bercerita, berarti lancar berbicara. Dalam bercerita siswa dilatih untuk berbicara jelas, intonasi tepat, urutan kalimat sistematis, menguasai massa pendengar, dan berperilaku menarik.
Berani membawakan cerita sesuai dengan isi (menirukan suara, perilaku tokoh, dan sebagainya), sehingga emosi, imajinasi pendengar terangsang karenanya.
Contoh
-         Seorang siswa menceritakan pengalamannya pada suatu pagi.
-         Siswa menceritakan aktivitasnya sehari-hari.
-         dll
8.      Metode Melanjutkan Cerita
Kita sebagai seorang guru dapat membuat sesuatu permainan cerita. Siswa disuruh untuk menceritakan sesuatu, kemudian siswa yang lain disuruh melanjutkan cerita itu.
Guru dapat terlibat langsung dengan bertindak sebagai motivator atau pengumpan. Dalam metode ini juga, dituntut untuk Menyimak, kreatif, berpikir, dan nalar.
Contoh
-         Guru : Kelas IIB selalu menjadi juara. Ruang kelas terletak di dekat ruang guru. Suasana kelas ini tertata baik karena siswa-siswinya selalu bekerja sama.
-         Siswa A  : Iuran untuk penataan kelas pun dilakukan bersama-sama. Pemilihan dekorasinya selalu dimusyawarahkan.
-         Siswa  : Semua siswa kelas IIB selalu merasa nyaman di kelas dan nyaman dalam belajar sehingga selalu memperoleh prestasi yang membanggakan
9.      Metode Menceritakan Kembali
Metode ini dapat diterapkan untuk mengintegrasikan kompetensi membaca, mendengarkan, dan sastra. Untuk memulai pelajaran, guru dapat memutar kaset, memberi bahan bacaan, atau membacakan sebuah bacaan sastra kepada siswa.
10.  Metode Percakapan
Percakapan merupakan pertukaran pendapat, pikiran tentang suatu topik tertentu antara pembicara-penyimak. Dalam kegiatan terjadi perlaihan peran yaitu pembicara menjadi penyimak, penyimak menjadi pembicara.
Melalui kegiatan ini pula, diharapkan agar siswa memiliki kemampuan dalam menyampaikan sesuatu kepada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.
Kegiatan percakapan biasanya dijumpai dalam:
-         Suasana akrab, spontanitas berbicara.
-         Topik pembicaraan suatu hal yang disepakati bersama
-         Topik yang dibahas merupakan kepentingan bersama
-         Percakapan merupakan dasar berbicara/ pengembangan berbicara
-         Guru harus sering melatih siwa untuk melasanakan kegiatan percakapan.
11.  Metode Parafrase
Parafrase berarti alih bentuk, misalnya mem- prosakan puisi atau sebaliknya mempuisikan prosa. Siswa dapat menceritakan puisi dengan bahasa prosa dan begitupun sebaliknya.
Siswa akan bergairah melaksanakan kegiatan ini, apabila guru mahir dalam melaksanakannya. Puisi atau prosa harus dipilih dengan cermat yang sesuai dengan sikon, lingkungan, kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman siswa.
Oleh karena itu, guru harus dengan matang dalam pembelajaran puisi, prosa secara sistematis, terinci, terarah. Guru juga harus mempersiapkan sebuah puisi yang cocok bagi kelas tertentu.
Guru membacakan puisi itu dengan suara jelas, intonasi yang tepat, dan kecepatan normal. Dengan begitu, siswa yang menyimak pembacaan tersebut akan memahami dan menceritakan kembali dengan kata-kata mereka sendiri.
12.  Metode Memberi Petunjuk
Dalam menggunakan metode ini, guru meminta siswa untuk memberi petunjuk tentang suatu acara, tempat, letak, atau cara menggunakan/ mengerjakan sesuatu dengan bahasa yang singkat, jelas, dan tepat.
Dengan begitu juga, maka siswa akan tertantang untuk berbicara dan menyampaikan penjelasan berdasarkan ide dan pendapat mereka masing-masing melalui bahasa yang sederhana
Contoh
-         Guru :  Coba kalian jelaskan bagaimana cara menuju sekolah ini dari rumah masing-masing.
-         Siswa :  Rumah saya di jalan Dr.Sutomo rabalaju-Dompu. Dari rumah ke sini bisa jalan kaki, naik sepeda, atau naik ojek.
13.  Metode Pelaporan
Kegiatan menyampaikan gambaran, lukisan, peristiwa terjadinya suatu hal disekitar siswa. Agar laporan menjadi baik dan lancer, terlebih dahulu siswa disuruh menulis apa yang akan dilaporkan kemudian dilaporkan secara lisan.
Bahan laporan harus singkat, padat, jelas, lugas, sederhana, menarik perhatian, rasional, lancar, dan baku.
Contoh
-         Guru : sesuai dengan tugas yang ibu berikan minggu lalu maka sekarang ibu minta secara bergilir melaporkan ke depan. Siapa yang berani?
-         Siswa : Saya, Bu. Boleh saya mulai, Bu?
-         Guru : Boleh silakan.
-         Siswa : Pulang sekolah kemarin, saya ke sebuah toko buku Asia, di sana banyak orang tua yang mencarikan buku anak-anaknya. Ternyata buku yang dicari banyak yang tidak tersedia. Setelah mencari buku yang dimaksud saya pergi ke toko buku lainnya untuk membeli buku yang tidak ada di toko buku di jalan Soekarno Hatta.
14.  Metode Wawancara
Wawancara adalah percakapan dalam bentuk tanya jawab. Dalam situasi formal, orang yang diwawancarai adalah orang yang berprestasi, ahli, atau yang mengalami dan dalam situasi nonformal, wawancara dapat berlangsung antar teman.
Agar siswa dapat mewawancarai dengan baik, terlebih dahulu siswa dilatih membuat pertanyaan secara tertulis apa yang akan ditanyakan. Pertanyaan-pertanyaan sajian harus rasional, tepat sasaran, singkat, padat, jelas. Proses berbicara dari kegiatan ini adalah awal dari membentuk pribadi yang kritis dan santun.
Contoh
-         Guru : buatlah daftar pertanyaan untuk tugas kalian berwawancara. Kalian boleh memilih siapa yang akan kalian wawancarai, boleh di kantor, puskesmas, sekolah, atau teman.
-         Siswa : di puskesmas saja Bu.
-         Guru : menentukan harinya dan membentuk kelompok. Kelompok satu mewawancarai dokter umum. Sebagai contoh:
-         Kel. 1        : Selamat pagi Dokter? Maaf mengganggu, sampai jam berapa waktu periksa dok? Jumlah pasien tiap hari berapa ya, dok? Kebanyakan yang diderita pasien apa, dok? Dan seterusnya.

15.  Metode Diskusi
Kegiatan ini adalah proses interaksi yang dapat merangsang daya fikir, logika, kritis dan santun.
Diskusi adalah percakapan dalam bentuk lanjut karena isi, cara, dan bobot pembicaraan lebih tinggi daripada percakapan biasa (Tarigan dalam Idra, dkk. 2002:68).
Melalui kegiatan ini akan berkembang keterampilan mengamati, mengklasifikasi, menginterpresikan, menyimpulkan, menerapkan, dan mengomunikasikan. Diskusi juga merupakan tukar pendapat, tukar pengalaman dan argumentasi.
Dalam Diskusi Terdapat :
-         Senjumlah peserta dan dipandu oleh seorang pemimpin (Moderator).
-         Terjadi tukar – menukar pendapat untuk memecahkan suatu masalah.
-         Setiap peserta diskusi harus aktif memberikan kontruksi dalam memecahkan masalah. (NKK, 1979:4). 
16.  Metode Bertelepon
Kegiatan ini dibelajarkan agar siswa terampil dalam menggunakan telepon, tahu akan fungsi dan peranan telepon. Siswa diharapkan dapat bertelepon dengan baik, benar, tepat sasaran serta memahami bahwa telepon dapat digunakan untuk berbagai keperluan terutama berita penting, keluarga, sahabat, dan seterusnya melalui berbicara tidak tatap muka/jarak jauh).
Ciri khas bertelepon ialah berbicara jelas, singkat, dan lugas. Faktor waktu juga harus diperhatikan. Bertelepon dengan bercakap-cakap memiliki kesamaan yaitu kegiatan berbicara dan perbedaannya pada jarak, interaksi, dan waktu.
17.  Metode Dramatisasi
Bermain drama berarti mementaskan lakon, cerita, karakter sesuatu.  Teknik dramatisasi dilaksanakan dengan mementaskan dan melaksanakan sifat/karakter pelaku drama.  Dalam hal ini, skenario dapat dibuat oleh guru atau siswa dan dapat juga menggunakan skenario yang sudah ada yang ditulis orang lain.
Melalui dramatisasi, siswa akan dilatih mengekspresikan perasaan dan pikirannya dalam bentuk bahasa lisan.

BAB III
PENUTUP

B.     KESIMPULAN
Metode pembelajaran adalah suatu cara yang digunakan oleh guru agar siswa dapat belajar seluas-luasnya dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran secara efektif.
Metode pembelajaran adalah cara menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa. Tanpa adanya metode yang tepat dalam suatu pembelajaran, maka bahan pembelajaran dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa tidak akan berarti.
Menurut tarigan (2002:56), ada beberapa metode dalam pembelajaran berbicara yaitu :
1. Metode Ulang Ucap                                         10. Metode Percakapan
2. Metode Lihat Ucap                                           11. Metode Parafrase
3. Metode Memberikan Deskripsi                         12. Metode Memberi Petunjuk
4. Metode Menjawab Pertanyaan                         13. Metode Pelaporan
5. Metode Bertannya                                           14. Metode Wawancara
6. Metode Pertanyaan Menggali                           15. Metode Diskusi
7. Metode Bercerita                                              16. Metode Bertelpon
8. Metode Melanjutkan Cerita                              17. Metode Dramatisasi
9. Metode Menceritakan Kembali           

C.    SARAN
  1. Untuk kita sebagai calon guru, lebih cermatlah dalam memilih metode-metode dalam pembelajaran, karena hanya dengan metode yang baiklah yang akan membawa anda menjadi sukses dalam mengajar.
  2. tidak mungkin kita membutuhkan orang lain atau meminta pertolongan kepada orang lain ketika kita dalam proses belajar mengajar, melainkan hanya diri kita sendiri yang akan melewati dan yang melaksanakannya. Oleh karena itu, berbuatlah apa yang menurut anda baik dilakukan. Akan tapi jangan paksakan bila tidak mampu, karena sesuatu yang dipaksakan tidak akan mendapatkan hasil yang baik dan memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA

Tarigan, Henry Guntur.2002.Pembelajaran keterampilan berbicara.Bandung:Angkasa

Tarigan, Henry Guntur.2008.Berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung:Angkasa




Tugas Retorika_Teks Pidato



NARKOBA PADA GENERASI MUDA
Oleh : M.Yusuf

Assalamualaikum…

Yang terhormat ibu dosen beserta teman-teman yang saya cintai…
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat dan karunianya, sehingga kita masih dapat berkumpul di tempat yang sederhana ini guna untuk mengikuti acara perkuliahan.

Ucapan terima kasih, kepada ibu dosen yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berdiri dihadapan teman-teman dan sedikit berbicara tentang remaja dan narkotika. Berkaitan tentang hal itu, lewat kesempatan ini, saya akan coba berbicara mengenai narkoba dan narkotika pada generasi muda sekedar yang saya ketahui.

Teman-teman yang saya cintai...
Berbicara tentang generasi muda/remaja dan narkoba, sepertinya sudah merupakan dua hal yang tak pernah terpisahkan, karena jika kita melihat belakangan ini banyak ditemui beragam kasus narkoba bahkan narkotika yang selalu melibatkan generasi muda/remaja korbannya. Selain dari pemakai, juga banyak ditemukan sebagai pengedar barang haram tersebut, sehingga semakin membuat pelik permasalahan yang berkaitan dengan narkoba/narkotika di lingkungan remaja saat ini.

Selain itu juga, melihat keterlibatan generasi muda/remaja dalam permasalahan ini, sepertinya sudah meluas sampai ke jaringan narkoba internasional. Hal ini akan mengakibatkan aparat kepolisian dan yang menangani permasalahan itu semakin sukar dan harus bekerja extra keras untuk mengungkap dan menanggulanginya.





Teman-teman yang saya cintai dan yang saya banggakan...
Dari permasalahan-permasalahan tersebut, tidak bisa langsung menyalahkan para generasi muda, akan tetapi harus mencari langkah yang bijak untuk mencari akar pokok permasalahnya. Jika memang masalah utamanya ada pada kurangnya peran orang tua dalam mendidik dan kurang perhatian terhadap anak-anaknya, maka pendekatan kepada orang tua tersebut, harus segera dilakukan. Begitu pun bila terdapat pada pokok permasalahan yang lainnya.

Jika ditemukan generasi muda yang menjadi tersangka penyalahgunaan narkoba maupun narkotika, para penegak hukum langsung memvonis memasukannya dalam penjara. Padahal, memenjarakan generasi muda bukanlah langkah penyelesaian yang baik dan bijak serta bukan untuk menyelesaikan masalah. Alangkah lebih baiknya menempatkan generasi muda tersebut ke dalam tempat rehabiliasi, agar remaja tidak merasa terasing dan bersalah yang berkepanjangan.

Teman-teman yang saya cintai dan saya banggakan...
Melihat kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini, kita sebagai generasi muda penerus bangsa, ikut prihatin terhadap saudara-saudara kita yang terlibat dalam masalah tersebut. Oleh karena itu teman-teman, Marilah kita saling menjaga diri dan menjauhi yang namanya narkoba. Langkah kita masih jauh, masa depan kita pun harus kita raih. Insya allah, pasti ada jalan yang terbaik.

Demikian pidato yang bisa saya sampaikan, apabila terdapat salah kata yang menyinggung hati dan perasaan teman-teman, saya mohon maaf dan semoga yang telah saya sampaikan bermanfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin
Wassalam,

Tugas Sejarah Sastra



PUISI LAMA
Oleh : M.Yusuf

A.    PENGERTIAN
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Pengarang dalam karya sastra lama yang termasuk dalam puisi lama biasanya bersifat anonim atau tidak diketahui.
Aturan- aturan yang dimaksud antara lain :
1.      Jumlah kata dalam 1 baris
2.      Jumlah baris dalam 1 bait
3.      Persajakan (rima)
4.      Banyak suku kata tiap baris
5.      Irama

Contoh Puisi LAMA:
Saat di meja makan pertama:
muncul seribu bayangan duka
banyak yang berlalu, pagi itu
orang masih mabuk dengan impiannya
Dari radio keluar berita-berita basi, naiknya harga-harga
Bukan itu yang disebut perubahan!
“Dimanakah sebernarnya keindahan bersemayam?”

Saat di meja makan kedua :
kesepian menekan tiba-tiba
ada jerit dari lorong tak bertepi
maka hidup hanya sebuah perjalanan lurus, tak berjiwa
bukan pengembaraan, bukan petualangan
meneruskan yang sudah ada
padahal hidup berjalan ke depan

B.     MACAM-MACAM PUISI LAMA
1.      MANTRA
Mantra merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
Contoh:
Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu

2.      GURINDAM
Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India). Semua baris merupakan isi dan menunjukkan hubungan sebab akibat.
Ciri-ciri Gurindam:
a.       Sajak akhir berirama a – a; b – b; c – c; dst.
b.      Berasal dari Tamil (India)
c.       Isinya merupakan nasihat yang cukup jelas yakni menjelaskan atau menampilkan suatui sebab akibat.

Contoh 1 :
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)

Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )

Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )

Contoh 2 :
Cahari olehmu akan sahabat
yang dapat dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru
yang mampu memberi ilmu

Cahari olehmu akan kawan
yang berbudi serta setiawan

Cahari olehmu akan abdi
yang terampil serta berbudi

3.      SYAIR
Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab. Semua baris merupakan isi.
Ciri – ciri Syair :
a. Setiap bait terdiri dari 4 baris
b. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
c. Bersajak a – a – a – a
d. Isi semua tidak ada sampiran
e. Berasal dari Arab

Contoh :
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)

Negeri bernama Pasir Luhur (a)
Tanahnya luas lagi subur (a)
Rakyat teratur hidupnya makmur (a)
Rukun raharja tiada terukur (a)

Raja bernama Darmalaksana (a)
Tampan rupawan elok parasnya (a)
Adil dan jujur penuh wibawa (a)
Gagah perkasa tiada tandingnya (a)

4.      PANTUN
Pantun adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.
Ciri – ciri Pantun :
1.      Setiap bait terdiri 4 baris
2.      Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
3.      Baris 3 dan 4 merupakan isi
4.      Bersajak a – b – a – b
5.      Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
6.      Berasal dari Melayu (Indonesia)

Contoh :
Ada  pepaya ada mentimun (a)
Ada mangga ada salak (b)
Daripada duduk melamun (a)
Mari kita membaca sajak (b)
MACAM-MACAM PANTUN
1.      Dilihat dari Bentuknya
a.      Pantun Biasa
Pantun biasa sering juga disebut pantun saja.
Contoh :
Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati
b.      Seloka (Pantun Berkait)
Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sebab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait.
Ciri-ciri Seloka:
a.       Baris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua.
b.      Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga
c.       Dan seterusnya

Contoh :
Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan
Kayu jati bertimbal jalan,
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan,
Ke mana untung diserahkan
c.       Talibun
Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya. Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi. Jika satiu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.
Jadi :
Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.
Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d

Contoh :
Kalau anak pergi ke pecan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu

d.      Pantun Kilat ( Karmina )
Ciri-cirinya :
a.       Setiap bait terdiri dari 2 baris
b.      Baris pertama merupakan sampiran
c.       Baris kedua merupakan isi
d.      Bersajak a – a
e.       Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata

Contoh :
Dahulu parang, sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)

2.      Dilihat Dari Isinya
a.      Pantun Anak-anak
Contoh :
Elok rupanya si kumbang jati
Dibawa itik pulang petang
Tidak terkata besar hati
Melihat ibu sudah datang
b.      Pantun Orang Muda
Contoh :
Tanam melati di rama-rama
Ubur-ubur sampingan dua
Sehidup semati kita bersama
Satu kubur kelak berdua

c.       Pantun Orang Tua
Contoh :
Asam kandis asam gelugur
Kedua asam riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
d.      Pantun Jenaka
Contoh :
Elok rupanya pohon belimbing
Tumbuh dekat pohon mangga
Elok rupanya berbini sumbing
Biar marah tertawa juga
e.       Pantun Teka-teki
Kalau puan, puan cemara
Ambil gelas di dalam peti
Kalau tuan bijak laksana
Binatang apa tanduk di kaki

Demikian beberapa pengertian dan macam-macam dari puisi lama, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua.
Amiinnn Yaa Rabbal Aalamaiinn...

Tugas Artikel


Penyingkatan Kata Dalam Jejaring Sosial ( SMS, Facebook, BBM  )
Dapat Mempengaruhi Tatanan Bahasa Indonesia
Oleh : M.Yusuf

Dalam berkomunikasi melalui jejaring sosial (SMS, Facebook, BBM) sepertinya sudah mulai meluas dan merebak pada sebagian orang. Contoh kecilnya saja, ketika melakukan diskusi ataupun menyelesaikan tugas kelompok, berkomunikasi dengan teman jarak jauh, meluangkan perasaan dan lain sebagainya. Hal ini dapat dilakukan melalui SMS, BBM maupun Facebook. Tentu saja untuk menghemat kata dan bahasa, akan melakukan menyingkatan dalam sebuah kata tersebut. Misal, kata “bagaimana” jadi “gimna”, kata “kenapa” disingkat jadi “napa” dan masih banyak lagi struktur kata yang disingkat.
Bentuk yang ringkas, unik dan mana suka dalam melakukan penyingkatan sebuah kata, cenderung disukai anak-anak muda sekarang dan secara marak juga digunakan dalam komunikasi melalui jejaring sosial seperti halnya dalam layanan pesan singkat atau yang biasa dikenal dengan SMS. Awalnya memang hanya serba menyingkat, namun kemudian huruf-huruf sudah mulai diganti dengan angka dan aneka simbol atau bahkan juga diganti dengan huruf lain yang jika dibaca kurang lebih menghasilkan bunyi yang mirip.
Kemunculan penyingkatan dan peringkasan kata dan bahasa ini tidak lain merupakan pengaruh dari bahasa dalam pergaulan (Gaul) sehari-hari dan juga peran teknologi melalui jejaring sosial seperti: Facebook, SMS, dan BBM. Keberadaan bahasa gaul ini dianggap sebagai alat komunikasi dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Bahasa gaul ini juga merupakan sarana eskpresi yang pas menurut selera kaula muda sekarang.
Persoalannya ialah apakah gaya penyingkatan bahasa ini bisa membawa pengaruh negatif terhadap penggunaan tatanan bahasa Indonesia secara umum? Hal ini tentu akan membawa pengaruh yang negatif, karena penggunaan penyingkatan kata ini sudah merambah dengan cukup luas dalam kehidupan remaja saat ini dan tentu saja akan berpengaruh terhadap penggunaan tatanan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini terbukti dalam pemakaian jejaring sosial seperti Facebook dan SMS, bahasa atau struktur kata yang dipakai banyak yang disingkat bahkan merubah huruf-huruf dengan simbol-simbol lain.
Merebaknya penggunaan bahasa yang ringkas dan singkat secara leluasa tanpa hambatan ini, mengakibatkan orang malas mempelajari bahasa yang baik dan benar, serta malas untuk bertutur kata mengikuti tatanan yang seharusnya. Oleh karena itu, remaja khususnya mahasiswa akan mengalami kesulitan dalam membahasakan gagasannya, baik dalam penggunaan tata kalimat maupun dalam pilhan kata yang seolah-olah begitu terbatas jumlah perbendaharaan kata yang dimiliki. Hal ini tentu saja akan menghambat pengetahuan kita dan merugikan pribadi remaja itu sendiri.
Akibat dari keseringan penyingkatan dan peringkasan bahasa, maka dalam penerapan ejaan dan tanda baca pun akan mengalami persoalan dan hambatan. hal ini dapat kita perhatikan dalam komunikasi melalui jejaring sosial seperti: SMS, BBM, dan Facebook. Komunikasi dalam jejaring sosial tersebut, tidak memperhatikan unsur penerapan ejaan dan tanda baca serta penggunaan huruf yang benar. Hal ini dapat dikatakan akan mengacaukan penggunaan tanda baca dan penggunaan huruf yang baik dan benar.
Dalam penggunaan huruf, huruf besar mapun huruf kecil digunakan tanpa mengindahkan kaidah bahasa. Begitu juga penerapan tanda baca dan pembuatan singkatan. Kaidah penyingkatan kata sama sekali tidak menjadi pertimbangan. Sebagai contoh yang saya kutip dari jejaring sosial Facebook, “hati-hati di jalan” disingkat jadi “ttdj”, kata “tempat” disingkat jadi “t4”, kata “dia” disingkat jadi “dy” dan masih banyak lagi.
Dari beberapa contoh tersebut, maka seolah ada pemahaman bahwa semakin aneh dan semakin kacau, justru akan semakin seru dan menarik. Kondisi yang seperti ini, akan menyebabkan anak-anak muda terutama mahasiswa mengalami kendala dalam penerapan ejaan dan tanda baca serta dalam penggunaan bahasa.
Dengan adanya persoalan ini, tidak hanya penggunaan tatanan bahasa Indonesia saja yang akan tersisihkan, tetapi juga akan mengganggu siapapun yang membaca dan mendengar kata-kata yang termaksud di dalamnya. Karena tidak semua mengerti akan maksud dari simbol-simbol penyingkatannya. Terlebih lagi dalam bentuk tulisan, sangat memusingkan dan memerlukan waktu yang lebih banyak untuk memahaminya.
Dari pembahasan diatas, maka dapat penulis sampaikan bahwa dalam penggunaan penyingkatan dan peringkasan bahasa atau kata dapat mengusik tatanan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita sebagai remaja penerus bangsa Indonesia masa depan ini melestarikan dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa sebaiknya kita bisa menggunakan bahasa indonesia dengan memperhatikan kaidah, peserta komunikasi, situasi, kondisi dan tujuan kita dalam berkomunikasi. Dengan demikian, kita akan dapat melestarikan bahasa indonesia kita tercinta ini dengan baik dan benar.
Bahasa yang baik belum tentu benar, tapi bahasa yang benar sudah tentu baik. Oleh karena itu, marilah kita lestarikan bahasa indonesia, jangan biarkan bahasa Indonesia kita ini terusik dan tersisihkan oleh bahasa-bahasa asing dan bahasa modern (Gaul). Marilah kita mulai menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama penggunaan bahasa dalam jalur jejaring sosial (Facebook, SMS, dan BBM).
 

Kamis, 07 Maret 2013

Antara Dimana - Di mana

Masih banyak orang menggunakan kata "dimana" yang kurang tepat, terutama saat kata "dimana" itu dimaksudkan untuk menunjukkan tempat. Masih banyak orang yang menuliskan kata "di" dan "mana" tanpa memisahnya.

Padahal menurut pedoman umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD), penulisan kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti "kepada" dan "daripada".

Dalam EYD, penulisan kata depan ini disebut Preposisi (bahasa Latin: prae, "sebelum" dan ponere, "menempatkan, tempat") yang diartikan sebagai kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat dan biasanya diikuti oleh nomina atau pronomina.

Preposisi bisa berbentuk kata, misalnya di dan untuk, atau gabungan kata, misalnya bersama atau sampai dengan. Lebih lanjut, baca ulasan.

Salam penulis muda.

Minggu, 17 Juni 2012

INDONESIA SURGA BAGI INDUSTRI ROKOK

TIADANYA komitmen pemerintah Indonesia terhadap kesehatan masyarakat makin tercermin dengan dihapuskannya batas tar dan nikotin dalam revisi peraturan pemerintah No. 18 tahun 1999 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan. Padahal, asap rokok secara ilmiah sudah terbukti menyebabkan setidaknya 25 jenis penyakit. Artinya, saat berbagai negara -- termasuk negara berkembang -- memperketat peraturan soal rokok untuk melindungi kesehatan rakyatnya, namun Indonesia justru menjadi surga bagi industri rokok.
Menurut Dr. Fernando Antezana, jika aksi-aksi yang keras tidak segera diambil, epidemi tembakau akan menyebabkan kematian dini sekira 250 juta anak dan remaja yang hidup saat ini. Sementara itu, Kepala Perwakilan WHO di Indonesia George Petersen mengungkapkan saat ini sekira empat juta orang mati tiap tahun karena rokok.
Walaupun bukti-bukti pengaruh dan kerugian akibat merokok itu begitu mengerikan, kelihatannya penanggulangan masalah merokok hingga saat ini masih belum didukung kemauan politik (political will) serius pemerintah. Buktinya, keselamatan dan kenyamanan bagi orang yang tidak merokok di tempat-tempat umum masih diabaikan. Lalu, di mana perlindungan atas hak kesehatan orang yang tidak merokok? Dan, lebih jauh di antara kita pun, walau telah mengetahui bahaya dari rokok, kita tetap merokok. Sungguh, bukankah ini tidak bijak terhadap dirinya sendiri?
Wahai perokok...! Bukankah seseorang akan senantiasa mencintai apa yang dicintai oleh kekasih-Nya (lebih-lebih, bila kita ingin dicintai-Nya), maka kita pun akan membenci yang dibenci-Nya. Allah SWT tidak menyukai asap rokok, lantaran ia adalah khabaits sesuatu yang buruk. Allah berfirman, "Menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang 'khabaits' (yang buruk)" (QS. Al-A'raf: 157).

Bahan kimia
Kalau kita sadar, satu batang rokok yang hanya seukuran pensil sepuluh sentimeter itu, ternyata ibarat sebuah pabrik berjalan yang menghasilkan bahan kimia berbahaya. Satu batang rokok yang dibakar mengeluarkan sekira 4 ribu bahan kimia. Menurut Dr. R.A. Nainggolan (1998), terdapat beberapa bahan kimia yang ada dalam rokok. Di antaranya, acrolein, merupakan zat cair yang tidak berwarna, seperti aldehyde. Zat ini sedikit banyaknya mengandung kadar alkohol. Artinya, acrolein ini adalah alkohol yang cairannya telah diambil. Cairan ini sangat mengganggu kesehatan.
Karbon monoxida, sejenis gas yang tidak memiliki bau. Unsur ini dihasilkan oleh pembakaran yang tidak sempurna dari unsur zat arang atau karbon. Zat ini sangat beracun. Jika zat ini terbawa dalam hemoglobin, akan mengganggu kondisi oksigen dalam darah.
Nikotin, adalah cairan berminyak yang tidak berwarna dan dapat membuat rasa perih yang sangat. Nikotin ini menghalangi kontraksi rasa lapar. Itu sebabnya seseorang bisa merasakan tidak lapar karena merokok.
Ammonia, merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hidrogen. Zat ini sangat tajam baunya dan sangat merangsang. Begitu kerasnya racun yang ada pada ammonia sehingga kalau disuntikkan (baca: masuk) sedikit pun kepada peredaraan darah akan mengakibatkan seseorang pingsan atau koma.
Formic acid, sejenis cairan tidak berwarna yang bergerak bebas dan dapat membuat lepuh. Cairan ini sangat tajam dan menusuk baunya. Zat ini dapat menyebabkan seseorang seperti merasa digigit semut.
Hydrogen cyanide, sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Zat ini merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar dan sangat efisien untuk menghalangi pernapasan. Cyanide adalah salah satu zat yang mengandung racun yang sangat berbahaya. Sedikit saja cyanide dimasukkan langsung ke dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian.
Nitrous oxide, sejenis gas yang tidak berwarna, dan bila terisap dapat menyebabkan hilangnya pertimbangan dan mengakibatkan rasa sakit. Nitrous oxide ini adalah jenis zat yang pada mulanya dapat digunakan sebagai pembius waktu melakukan operasi oleh para dokter.
Formaldehyde, sejenis gas tidak berwarna dengan bau yang tajam. Gas ini tergolong sebagai pengawet dan pembasmi hama. Gas ini juga sangat beracun keras terhadap semua organisme-organisme hidup.
Phenol, merupakan campuran dari kristal yang dihasilkan dari distilasi beberapa zat organik seperti kayu dan arang, serta diperoleh dari tar arang. Zat ini beracun dan membahayakan, karena phenol ini terikat ke protein dan menghalangi aktivitas enzim.
Acetol, adalah hasil pemanasan aldehyde (sejenis zat yang tidak berwarna yang bebas bergerak) dan mudah menguap dengan alkohol. Hydrogen sulfide, sejenis gas yang beracun yang gampang terbakar dengan bau yang keras. Zat ini menghalangi oxidasi enxym (zat besi yang berisi pigmen).
Pyridine, sejenis cairan tidak berwarna dengan bau yang tajam. Zat ini dapat digunakan mengubah sifat alkohol sebagai pelarut dan pembunuh hama. Methyl chloride, adalah campuran dari zat-zat bervalensi satu antara hidrogen dan karbon merupakan unsurnya yang terutama. Zat ini adalah merupakan compound organis yang dapat beracun.
Methanol, sejenis cairan ringan yang gampang menguap dan mudah terbakar. Meminum atau mengisap methanol dapat mengakibatkan kebutaan dan bahkan kematian. Dan tar, sejenis cairan kental berwarna cokelat tua atau hitam. Tar terdapat dalam rokok yang terdiri dari ratusan bahan kimia yang menyebabkan kanker pada hewan. Bilamana zat tersebut diisap waktu merokok akan mengakibatkan kanker paru-paru.

Bahayakan tubuh
Melihat dari kandungan bahan-bahan kimia yang terdapat dalam rokok tersebut, kita tidak akan menyangsikan lagi kalau rokok itu merupakan sumber bencana dan perusak tubuh bagi yang mengisapnya. Salah satu proses yang memang belum berdampak pada penampilan fisik perokok adalah gangguan pada sistem sirkulasi darah, yang akhirnya memicu penyakit jantung. Kami menggolongkan mereka sebagai 'perokok sehat,' kata Dr. Johannes Czenin (baca: SHAR'niin), Rektor kepala pada Departemen Molekular dan Farmakologi UCLA. Lebih lanjut dikemukakan, walau belum ada indikasi jantung koroner, toh ada abnormalitas yang kami sebut vosomotion, atau perubahan pada aliran darah.
Sementara itu, berdasarkan laporan Badan Lingkungan Hidup Amerika (EPA - Environmental Protection Agency) mencatat tidak kurang dari 300 ribu anak-anak berusia 1 hingga 1,5 tahun menderita bronchitis dan pneumonia, karena turut mengisap asap rokok yang diembuskan orang di sekitarnya terutama ayah-ibunya.
Selain anak-anak, kecenderungan peningkatan jumlah korban asap rokok juga terlihat pada kaum wanita. Nasib kaum ibu bersuamikan perokok agaknya tak berbeda jauh dengan anak-anak yang memiliki keluarga perokok. Penelitian yang dilakukan EPA menghasilkan kesimpulan bahwa dari 30 wanita, 24 di antaranya berisiko tinggi terserang kanker paru-paru bila suaminya perokok.
Di bagian lain, menurut para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas New York, wanita yang merokok lebih dari 10 batang per hari memiliki peluang memasuki monopause dini 40 persen lebih besar ketimbang para wanita yang tidak merokok. Dalam studi itu, para peneliti mengamati 4.694 wanita selama lebih dari lima tahun. Ternyata, wanita perokok rata-rata memasuki masa monopause lebih cepat 9 bulan ketimbang wanita yang tidak merokok.
Setelah kita mengetahui kandungan bahan-bahan kimia berbahaya dalam rokok dan akibatnya bagi kesehatan manusia, maka alangkah bodohnya manusia yang masih merokok dan tidak ada niatan untuk berhenti merokok. Buat apa kita dilengkapi akal dan pikiran kalau diri kita tidak dapat memilah-milah mana yang baik dan tidak baik dari sesuatu barang yang akan kita konsumsi?

Berhenti Merokok
Kurt Salzer (1950:59), dalam Thrirteen Ways to Break the Smoking Habit, mengemukakan, ada 13 metode berhenti merokok :
1)      Menyadari apa sebabnya Anda merokok.
2)      Langsung berhenti merokok.
3)      Jangan merokok waktu melakukan sesuatu atau sewaktu mengemudikan kendaraan.
4)      Katakan kepada diri, "Saya tidak akan merokok hari ini".
5)      Tentukan suatu hari untuk berhenti merokok.
6)      Katakan, "ya" bagi kesehatan Anda, dan katakan "tidak" untuk penyakit.
7)      Merokok mengurangi kecantikan Anda. Oleh karena itu, katakan "ya" untuk kecantikan muka Anda dan "tidak" atas kerusakan kecantikan karena rokok.
8)     Adalah watak orang-orang muda, bahwa walaupun ada sifat menentang ibu-bapak atau guru, namun mencoba meniru mereka. Bapak atau guru yang melarang anak-anak merokok, tetapi mereka sendiri merokok, akan diikuti anak-anak jadi perokok. Oleh karena itu, Anda perlu menyadari pengaruh Anda sebagai orang tua atau guru, kalau Anda masih tetap merokok.
9)    Pernahkah Anda membakar uang lembaran seribu rupiah? Anda, dengan merokok telah membuatnya.
10)  Seseorang perokok telah terbiasa dengan bau rokok yang sangat tajam. Organismenya telah terbiasa dengan kadar nikotin tertentu. Gantinya memarahi seorang anak yang merokok, dipaksa merokok sampai dia merasa sakit. Akibatnya, kapan saja anak itu mencium bau rokok, dia merasa sakit.
11)Tersedak atau ketegukan akan berhenti dengan memperhatikan diafragma Anda, bagaimana diafragma itu mengembang dan mengempis. Amati diri Anda, kalau Anda sedang ingin merokok. Keinginan itu datang dari luar. Lalu tutup mata Anda dan pikirkan mengalahkan pengaruh luar tersebut.
12) Dalam pertentangan antara kuasa kemauan dan kuasa imajinasi, maka kuasa imajinasi itu akan menang. Bayangkanlah Anda tidak akan merokok lagi, maka Anda akan berhasil.
13) Agar metode imajinasi itu berhasil, jangan bimbang. Dengan santai katakanlah kepada diri, "Saya tahu bahwa saya tidak akan merokok lagi". Oleh karena itu, Anda tidak akan merokok lagi.

Selamat berhenti merokok. Masihkah Anda ragu terhadap bahaya dari rokok? Bila ya, berarti Anda benar-benar telah tertipu dan siap-siap dibunuh oleh rokok! Atau jangan-jangan Anda telah terlena sebab Indonesia benar-benar sudah menjadi surga bagi industri rokok.